sumber gambar : Yehezkiel Berfoto bersama Karyanya yang dibeli Samuel Wattimena
  • 29 Mei 2025
  • Dibaca 150x

Apresiasi Samuel JD Wattimena di Pameran OTS 2: Menghidupkan Nyala Semangat Seniman Muda


Pameran On The Spot (OTS) 2 yang digelar di Ambarawa menjadi panggung penuh makna bagi para seniman lokal untuk menampilkan jiwa dan karya mereka kepada publik yang lebih luas. Namun, pada momen kali ini, pameran tersebut tak hanya menjadi ruang eksistensi karya seni, tetapi juga menjadi titik temu antara seniman muda dengan tokoh nasional yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan seni rupa di Indonesia.

Adalah Samuel JD Wattimena, anggota DPR RI Komisi VII yang secara pribadi mengoleksi dua karya lukisan dari pameran ini. Langkah ini bukan hanya tindakan apresiatif, tapi juga sebuah pesan kuat bahwa seni lokal, terutama dari seniman muda Kabupaten Semarang, memiliki daya ungkap yang layak mendapat perhatian nasional.

Kami mewawancarai langsung dua pelukis muda berbakat yang karyanya dibeli oleh beliau. Inilah kisah mereka, karya mereka, dan semangat yang ingin mereka nyalakan bagi ekosistem seni rupa Indonesia.

 

Dari Imajinasi Masa Kecil hingga Panggung Nasional

Pelukis pertama, Seorang pemuda 19 tahun bernama Yehezkiel asal Kota Ungaran, yang bisa ditemukan lewat akun Instagramnya @heez.el_, Mahasiswa Prodi Seni Rupa ini mengawali kecintaannya pada dunia lukis sejak kecil. Didukung oleh orang tua yang memiliki latar belakang seni, ia tumbuh dalam lingkungan yang memupuk kreativitasnya sejak dini. “Saya suka menggambar monster-monster dari imajinasi saya sejak kecil,” ungkapnya. Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi keseriusan saat ia mulai mengikuti lomba-lomba sejak SD. Cita-citanya pun tak tanggung-tanggung: menjadi pelukis dan pemural terkenal yang mampu menginspirasi. Karyanya yang dibeli oleh Samuel JD Wattimena adalah sebuah lukisan bertema “Kerakusan.” Sebuah karya yang kaya simbolisme, warna, dan kritik sosial, mencerminkan kegelisahan yang ia tuangkan dalam bentuk visual surealis-fantastik. Ia menjelaskan bahwa lukisan tersebut merepresentasikan kondisi masyarakat yang “terhipnotis oleh uang,” menggunakan karakter-karakter tidak manusiawi dengan mata spiral, simbol uang yang tersebar, dan gestur saling merebut, membentuk narasi tentang bagaimana manusia bisa kehilangan jati diri karena kerakusan.

Dengan teknik warna cerah kontras, garis tegas, dan unsur surealis yang menggabungkan mesin, binatang, dan manusia, ia ingin menyampaikan bahwa kehidupan modern penuh dengan kompetisi, tekanan, dan eksploitasi, seringkali atas nama materi. "Saya biasanya suka mengeksplorasi tema kemanusiaan, dengan warna-warna berani dan simbol yang kuat," tuturnya. Saat mengetahui bahwa karyanya dibeli oleh seorang tokoh nasional, reaksi sang pelukis tak bisa disembunyikan. “Syok puoll!” katanya dengan tawa penuh bahagia. Ia juga mengaku sempat berdiskusi langsung dengan Pak Samuel, yang menurutnya memberikan apresiasi mendalam terhadap makna di balik karyanya. “Penting bagi publik figur untuk mendukung seniman lokal. Dukungan seperti ini bisa menjadi dorongan moral, sekaligus membuka peluang yang lebih luas,” lanjutnya. Uang hasil pembelian lukisan tersebut pun akan ia gunakan untuk membeli alat dan bahan baru, memperdalam teknik dan eksplorasi kreatifnya. Ia menutup wawancara dengan pesan menyentuh: “Seni rupa bukan sekadar hiasan dinding, tapi cermin jiwa bangsa. Mari kita lihat karya seni bukan dari nilai jualnya, tapi dari nilai cerita dan jiwa yang ditawarkannya.

 

Imajinasi yang Mengalir

Berbeda dengan pelukis pertama yang sangat terstruktur dalam tema dan simbolisme, pelukis kedua yang menggunakan akun Instagram @penaart14 justru memiliki pendekatan yang lebih spontan dan intuitif. Ia mengaku bahwa karya-karyanya banyak lahir dari imajinasi yang muncul secara alami, tanpa tema yang selalu dirancang secara khusus. “Saya suka berkhayal dan berimajinasi, lalu menuangkannya ke dalam kanvas,” ungkapnya. Ia memilih media cat akrilik di kanvas, dan cenderung mengeksplorasi aliran surealis, kadang juga realis. Bagi dia, seni adalah hasil ekspresi tanpa banyak batasan.

Lukisan yang dibeli oleh Samuel Wattimena kali ini berjudul LAWSTSOHL, sebuah karya yang menggambarkan pencarian jati diri. Sebuah tema yang sangat manusiawi dan relevan dalam konteks kehidupan modern, ketika banyak individu merasa terasing, terjebak dalam tuntutan dan ekspektasi sosial.

Meski belum sempat berdiskusi langsung tentang karya itu dengan Pak Samuel, sang pelukis merasa sangat bahagia dan bangga. “Ini karya saya yang ketiga yang dibeli oleh beliau,” katanya dengan penuh syukur. Ia merasa bahwa apresiasi dari tokoh nasional menjadi penguat motivasi, dan bukti bahwa karya seniman lokal memiliki tempat di hati publik.

Menariknya, sang pelukis saat ini sedang mempersiapkan sebuah pameran kolaborasi bersama anak perempuannya yang juga seorang pelukis cilik. "Semoga proyek ini berjalan lancar, karena ini bagian dari proses membangun regenerasi seniman," tambahnya. Harapannya terhadap ekosistem seni rupa di Indonesia cukup jelas: dukungan yang lebih nyata. “Seniman lukis seringkali masih dipandang sebelah mata, apalagi yang belum dikenal. Padahal karya mereka memiliki nilai yang besar jika diberi ruang.”

 

Peran Penting Publik Figur dalam Ekosistem Seni

Baik pelukis pertama maupun kedua sama-sama menyoroti pentingnya peran publik figur dalam memberikan dukungan pada seniman lokal. Ketika tokoh seperti Samuel JD Wattimena secara langsung membeli karya, hadir di pameran, dan berdialog dengan seniman, ini bukan hanya soal transaksi, tapi transformasi. Dukungan semacam ini bisa membantu membangun kredibilitas seniman, memperluas jejaring, dan membuka peluang lebih lanjut dalam karier mereka. Bahkan, bisa dibilang bahwa tindakan kecil semacam pembelian karya seni lokal adalah investasi jangka panjang dalam ekosistem budaya bangsa.

Apresiasi yang tulus dari pemangku kebijakan juga bisa menjadi pesan bahwa seni bukan lagi dipinggirkan dalam diskursus pembangunan nasional. Dalam konteks Komisi VII DPR RI yang  membidangi sektor UMKM, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif, dukungan terhadap dunia seni juga bisa dibaca sebagai bentuk keterbukaan terhadap pendekatan interdisipliner dalam pembangunan manusia Indonesia yang berkelanjutan.

Dari kisah dua pelukis muda ini, tampak jelas bahwa ruang-ruang seperti pameran OTS di Ambarawa adalah wadah penting yang perlu terus didukung dan dikembangkan. Ruang-ruang ekspresi, apresiasi, dan interaksi antara seniman dengan masyarakat, tokoh publik, serta sesama pelaku seni, merupakan bagian tak terpisahkan dari ekosistem ekonomi kreatif yang sehat.

Dari obrolan ringan, diskusi karya, hingga transaksi koleksi, proses-proses ini menyatukan berbagai unsur dalam satu ekosistem yang saling menopang. Inilah potensi luar biasa dari ekonomi kreatif, di mana nilai bukan hanya berasal dari produk, tapi juga dari proses, cerita, dan dampaknya terhadap masyarakat. Harapan kedua pelukis pun senada: agar ekosistem seni rupa, khususnya di Kabupaten Semarang dan Indonesia pada umumnya, menjadi semakin berkembang. Mereka ingin masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta bisa melihat karya seni bukan semata dari sisi estetik atau komersial, tapi juga dari kekuatan narasi dan dampak sosial yang bisa dihasilkan.

 

 

                             Samuel JD Wattimena berfoto bersama R. Nugroho Adi dan keluarga, Penggagas dan Pemrakarsa Event OTS Ambarawa

 

Dari Ambarawa untuk Indonesia

Apa yang terjadi di pameran OTS 2 Ambarawa adalah gambaran kecil namun kuat tentang masa depan seni rupa Indonesia. Ketika seniman muda diberi ruang untuk tumbuh, dan ketika publik figur mengambil peran aktif dalam apresiasi, maka kita tengah menyemai harapan baru—bahwa seni dan budaya akan terus menjadi denyut kehidupan bangsa. Samuel JD Wattimena, melalui dukungannya yang konsisten terhadap seniman lokal, menunjukkan bahwa langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan ketulusan bisa membawa dampak besar. Ia tak hanya membeli lukisan, tapi juga membeli waktu, ruang, dan keberanian bagi seniman muda untuk terus berkarya dan bersuara.

Semoga langkah ini menjadi inspirasi bagi lebih banyak pihak untuk terlibat dan mendukung seniman lokal, karena dari karya merekalah, kita bisa melihat wajah lain dari Indonesia: penuh warna, imajinasi, dan semangat perubahan.

 

Ditulis Oleh Admin Kontributor Kanal Informasi Ekonomi Kreatif Kab. Semarang
Diolah dari berbagai Sumber termasuk wawancara mendalam terhadap subject berita


 

Bercengkerama Bersama