• 01 Agu 2025
  • Dibaca 169x

Ekosistem Ekonomi Kreatif : Kunjungan Samuel Wattimena ke Perajin Seni Akar Kayu Duta Craftindo


Dalam kunjungan rutin di Dapil Kabupaten Semarang, tokoh nasional di bidang fesyen, pelestarian budaya, dan ekonomi kreatif, yang juga Anggota Komisi 7 DPR RI Samuel JD Wattimena, menyempatkan diri menelusuri lebih dalam potensi kreatif lokal yang berbasis pada warisan budaya, kekayaan alam dan karya seniman. Salah satu momen penting dalam kunjungan ini terjadi di Desa Branjang, Kecamatan Ungaran Barat, ketika ia bertemu langsung dengan Abdul Ghofur, seniman akar kayu jati berlatar belakang pendidik yang telah menorehkan namanya di dunia seni, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga mancanegara.

Abdul Ghofur, yang juga merupakan pendidik dan penggerak kreatif, telah mendedikasikan hidupnya untuk mengolah (limbah) akar kayu jati menjadi karya seni bernilai tinggi. Melalui Gallery Duta Craftindo, ia mengangkat material yang kerap dianggap limbah — akar kayu sisa dari industri meubel, khususnya dari daerah Blora dan Kendal — menjadi patung-patung yang menawan, instalasi artistik, dan elemen dekoratif yang mampu bersaing di pasar internasional. Yang membuat karya Abdul Ghofur menonjol bukan hanya keunikannya, tetapi juga filosofi dan proses kreatif di baliknya.

Proses pengerjaan karya di Duta Craftindo sepenuhnya mengandalkan bentuk alami akar jati yang dipilih secara teliti. Abdul Ghofur tidak memaksakan bentuk, melainkan mengikuti siluet dan karakter material itu sendiri. Proses ini memerlukan keahlian teknis tinggi, pemahaman mendalam terhadap kayu, serta insting artistik yang terasah. Dari tangannya dan seluruh team Duta Craftindo, lahirlah berbagai bentuk hewan seperti burung eksotis, beruang madu, kuda Persia, anjing pudel, lynx, bahkan miniatur naga, semuanya dirakit dan di rekontruksi dengan presisi dan detail yang mengagumkan.

 

Representasi nyata dari kekuatan ekonomi kreatif

Didampingi oleh Dimas Herdy Utomo, Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, Samuel JD Wattimena berkesempatan mengunjungi langsung workshop eksklusif Abdul Ghofur yang berada di lanskap perbukitan Gunung Ungaran yang asri. Di tempat inilah percakapan mendalam terjadi, membahas tentang pentingnya mempertahankan filosofi dan SDM lokal dalam berkarya, potensi pasar luar negeri yang besar, serta pentingnya edukasi berkelanjutan bagi generasi kreatif muda kedepan.

Dalam suasana hangat dan penuh kekaguman, Samuel JD Wattimena menyampaikan apresiasinya yang tinggi. Baginya, pendekatan artistik Abdul Ghofur merupakan representasi nyata dari kekuatan ekonomi kreatif berbasis kearifan dan pendalaman seni. Ia menilai bahwa karya seperti ini tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga menjaga dan memperkuat identitas local Indonesia. Lebih dari itu, model kerja Abdul Ghofur menjadi contoh penting bagaimana pelestarian dan inovasi bisa berjalan beriringan.

Ekosistem kreatif yang dibangun Abdul Ghofur juga menjadi poin penting dalam kunjungan ini. Workshop miliknya tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga ruang belajar, dan kolaborasi. Dalam perjalanannya, produk dari duta Craftindo sudah dipasarkan ke banyak negara Eropa seperti Inggris, Jerman dan Belgia. Dengan jejaring internasional seperti yang telah dilakukan duta craftindo, sudah selayaknya usaha rintisan dan UMKM kabupaten semarang dapat terinspirasi dan mengikuti jejak baik yang tersedia.

Samuel Wattimena menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem yang kokoh dan berkelanjutan. Ia menyebut bahwa Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang memiliki peran sentral dalam menyatukan para pelaku kreatif, komunitas, akademisi, pemerintah daerah, serta sektor swasta untuk bersama-sama mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkarakter dan berdaya saing tinggi.

Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang sendiri telah membangun fondasi kerja kolaboratif sejak awal pembentukannya. Komite ini berfungsi sebagai simpul penghubung antar pelaku kreatif lintas subsektor — dari seni rupa, kriya, kuliner, hingga digital. Komite juga menjadi fasilitator dalam program-program peningkatan kapasitas, pendataan ekosistem kreatif, promosi produk kreatif lokal, dan advokasi kebijakan yang berpihak pada pelaku UMKM dan komunitas seni. Tidak hanya menjadi badan koordinatif, komite ini aktif menjalin jejaring dengan lembaga pendidikan, pusat riset, dan perusahaan, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Dimas Herdy Utomo dalam kesempatan yang sama menyatakan bahwa Abdul Ghofur merupakan salah satu pilar penting dan actor yang harus terlibat lebih dalam dalam niatan pengembangan ekosistem kreatif Kabupaten Semarang. Melalui kerja-kerja nyata dan komitmen terhadap nilai lokal, karya nya mampu menjadi inspirasi dan rujukan bagi pelaku kreatif lainnya. Ia menyebut bahwa keberadaan figur seperti Abdul Ghofur membuktikan bahwa daerah memiliki potensi luar biasa jika diangkat dan dikelola secara kolaboratif dan lintas sektor.

Dalam kunjungan singkat tersebut, Samuel Wattimena dan timnya tak hentinya mengagumi hasil karya Abdul Ghofur. Mereka dikelilingi oleh berbagai patung hewan berukuran medium hingga besar, yang semuanya dibuat dari akar kayu jati asli tanpa tambahan pewarna. Hasil karyanya tidak hanya merepresentasikan bentuk hewan, tetapi menghadirkan ekspresi, gerak, dan jiwa dalam kayu yang telah "mati" itu. Proses ini bukan hanya memerlukan keterampilan teknis tinggi, melainkan juga penghayatan mendalam terhadap filosofi hidup dan bentuk alam.

Karya-karya dari Gallery Duta Craftindo menjadi simbol pertemuan antara tradisi dan visi masa depan. Ia menunjukkan bagaimana kekayaan lokal bisa dijadikan modal kreatif yang kuat, bila dipadukan dengan semangat inovasi dan keberanian untuk menjelajah pasar global. Dengan tetap memegang teguh nilai-nilai lokal, karya-karya ini menjadi bukti bahwa ekonomi kreatif bukan hanya soal tren pasar, tetapi juga tentang keberlanjutan, jati diri, dan keberanian bercerita lewat karya.

                     Dok.: Karya Duta Craftindo berupa miniatur beruang (doc KEK)

 

Kolaborasi merupakan Kunci pemberdayaan dan aktivasi

Penting dicatat bahwa keberhasilan Abdul Ghofur juga didukung oleh lingkungan kreatif yang ia ciptakan. Dan dampaknya, Beberapa saat kebelakang Duta Craftindo diparesiasi oleh salah satu BUMN terkemuda dalam program promosi dan kolaborasi yang lengkap. Sehingga dia menyampaikan bahwa dukungan dari komunitas, swasta yang perduli, serta sudah seharusnya pemerintah daerah, serta inisiatif-inisiatif seperti Komite Ekonomi Kreatif menjadi elemen kunci dalam mewujudkan ekosistem yang hidup dan berkembang. Dengan sinergi lintas sektor, ruang-ruang pembelajaran kreatif seperti yang dibangun Abdul Ghofur dapat menjadi pusat regenerasi, pembelajaran, dan inovasi bagi generasi muda.

Kunjungan tokoh seperti Samuel Wattimena menjadi penanda penting bahwa apa yang tumbuh di daerah seperti yang ada di Kabupaten Semarang bukanlah upaya sporadis, melainkan bagian dari gerakan kolektif menuju pembangunan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. sudah sharusnya Seni dan budaya tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dari pembangunan, melainkan sebagai fondasi penting dalam membangun masyarakat yang berdaya, mandiri, dan memiliki karakter.

Melalui narasi ini, kita melihat bahwa pembangunan ekonomi kreatif tidak melulu tentang komodifikasi atau komersialisasi seni. Ia juga tentang bagaimana menciptakan ruang yang inklusif, kolaboratif, dan menghargai akar budaya. Abdul Ghofur dengan karya akar jatinya menunjukkan bahwa dari akar yang sering dianggap tak bernilai, bisa tumbuh harapan, keindahan, dan kekuatan untuk menggerakkan perubahan. Sebuah pelajaran penting bahwa kreativitas, ketika ditanamkan dengan nilai, bisa menjadi kekuatan yang luar biasa.

Kabupaten Semarang hari ini sedang menapaki jalur penting dalam pengembangan ekosistem ekonomi kreatifnya. Kunjungan seperti ini menjadi bagian dari proses panjang membangun kepercayaan, memperkuat jaringan, dan mempromosikan potensi lokal ke tingkat nasional dan internasional. Dan lebih penting lagi, menjadi pengingat bahwa setiap daerah di Kabupaten Semarang punya ceritanya sendiri, tinggal bagaimana kita menggali dan merangkainya menjadi kekuatan Bersama hingga nantinya menimbulkan Gerakan kolektif.

Ajakan terbuka kini dilontarkan bagi berbagai pihak — komunitas kreatif, dunia usaha, institusi pendidikan, hingga pemerintah daerah lainnya — untuk terlibat dalam pengembangan potensi kreatif berbasis budaya di Kabupaten Semarang. Dengan dukungan berkelanjutan, baik dalam bentuk program pelatihan, akses pasar, pendanaan alternatif, maupun pertukaran pengetahuan, Kabupaten Semarang dapat menjadi model ekosistem kreatif yang resilien dan berdampak luas.

Inilah saatnya membangun kolaborasi nyata. Karena hanya dengan bergerak bersama, ekosistem ini dapat bertahan, tumbuh, dan melahirkan inovasi-inovasi baru yang lahir dari akar budaya sendiri, namun mampu bicara pada dunia.

 

Ditulis dan Di Narasikan Oleh Admin Kanal Informasi Ekonomi Kreatif Kab. Semarang
31/07/2025

Bercengkerama Bersama