sumber gambar : Dokumentasi Kegiatan KEK
  • 09 Mei 2025
  • Dibaca 172x

Ekosistem Kreatif Kampus dan Komunitas: KEK Kab. Semarang Bersama Universitas Ngudi Waluyo


Ungaran, Mei 2025 – Upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Kabupaten Semarang memasuki babak baru. Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Semarang resmi menjajaki kolaborasi strategis dengan Universitas Ngudi Waluyo (UNW) dalam pendekatan berbasis hexahelix. Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut dihadiri langsung oleh Rektor UNW, Prof. Dr. Subyantoro, M.Hum., jajaran rektorat, serta pengurus harian Komite Ekraf yang dipimpin oleh Dimas Herdy Utomo, M.I.Kom., Ketua Komite Ekraf Kabupaten Semarang periode 2024–2029 . 

Langkah ini bukan hanya sekadar silaturahmi antarlembaga, tetapi sebuah inisiasi kolaboratif untuk menyatukan kekuatan enam unsur penting dalam ekosistem pembangunan kreatif—yakni pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, dan sektor keuangan/investor—dalam satu frame gerak yang terarah dan berkelanjutan.

 

Akademisi sebagai Pilar Inovasi Ekosistem Ekraf

Sebagai institusi pendidikan tinggi yang ada di Kabupaten Semarang, Universitas Ngudi Waluyo memiliki potensi luar biasa dalam mencetak talenta kreatif, melakukan riset terapan, serta menjalankan pengabdian masyarakat yang relevan dengan kebutuhan daerah. Dalam konteks pengembangan ekonomi kreatif, kehadiran kampus menjadi elemen yang sangat krusial, bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bersama bagi inovasi dan kolaborasi lintas sektor terkait.

Komite Ekraf Kabupaten Semarang melihat UNW sebagai mitra strategis dalam menjahit simpul-simpul yang selama ini masih terpisah. Melalui pendekatan hexahelix, sinergi dengan kampus memungkinkan karya civitas akademika tidak berhenti sebagai dokumen penelitian semata, melainkan seharusnya mampu bertransformasi menjadi produk nyata yang berkelanjutan dan berdampak langsung bagi masyarakat dan pelaku industri kreatif secara luas

Dalam sambutannya, Ketua Komite Ekraf, Dimas Herdy Utomo, M.I.Kom., menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya sistemik untuk menciptakan ekosistem yang inklusif dan berakar dari potensi lokal. "Kami percaya bahwa KEK adalah ruang bertumbuh bersama. Bukan hanya sebagai forum formal, tetapi sebagai jaringan hidup yang menghubungkan ide, talenta, dan sumber daya secara organik," ungkapnya.

                                                                                                        Dokumentasi kegiatan KEK

 

Menjahit Ekosistem yang Terfragmentasi

Kabupaten Semarang memiliki ragam subsektor ekonomi kreatif yang tumbuh di berbagai titik—mulai dari kuliner tradisional, kriya berbasis limbah, produk herbal dan kesehatan, hingga seni pertunjukan lokal, dan juga massifnya talenta digital. Namun selama ini, pertumbuhan itu masih terfragmentasi, belum terintegrasi dalam satu kerangka ekosistem yang saling menguatkan satu sama lain.

Komite Ekraf hadir sebagai platform penghubung lembaga yang meng orkestrasi, dan kemitraan dengan UNW akan memperluas jangkauan integrasi ini. Program-program seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik berbasis ekraf, riset kolaboratif, program inkubasi bisnis mahasiswa, serta proyek pengabdian masyarakat lintas disiplin menjadi peluang konkret dalam kerja sama ini yang segera akan di kolaborasikan.

Kampus bukan hanya sumber tenaga muda dan pemikiran segar, tetapi juga menjadi laboratorium sosial yang mampu mengembangkan pendekatan berbasis data, peta kebutuhan, dan riset potensi. Dengan begitu, pelaku kreatif di desa, komunitas, atau bahkan UMKM kecil dapat terhubung dengan inovasi dan pengetahuan yang aplikatif.

 

Pentingnya Kolaborasi Hexahelix

Selama ini banyak pendekatan pembangunan hanya berbasis triple helix (pemerintah, akademisi, pelaku usaha). Namun perkembangan zaman dan kompleksitas masalah sosial-ekonomi membutuhkan pendekatan yang lebih kaya. Model hexahelix yang diusung Komite Ekraf menambahkan tiga simpul penting lainnya: komunitas, media, dan sektor keuangan.

- Komunitas sebagai penggerak kultural dan sosial.

- Media sebagai alat advokasi, dokumentasi, dan penyebaran nilai.

- Sektor keuangan (baik melalui perbankan, investor, maupun CSR) sebagai enabler untuk keberlanjutan.

Universitas Ngudi Waluyo, dalam kerja sama ini, diharapkan dapat menjadi jembatan lintas simpul—menghubungkan antara ilmu pengetahuan dengan praktik di lapangan, serta mempertemukan pelaku dan pemangku kepentingan dari berbagai latar belakang dalam satu ekosistem kolaboratif.

 

Komitmen Jangka Panjang: Bukan Sekadar Program

Salah satu tantangan besar dalam dunia ekonomi kreatif adalah keberlanjutan. Banyak inisiatif dan pelatihan hanya berumur pendek. Hal ini terjadi karena kurangnya dukungan ekosistem dan belum adanya koneksi antarpilar pembangunan. Oleh karena itu, dalam pertemuan ini, kedua pihak menyepakati bahwa kerja sama ini bukan hanya satu kali kegiatan, tetapi akan dikembangkan menjadi roadmap jangka panjang. Setiap program akan memiliki pengukuran dampak, pelibatan multi pihak, serta dokumentasi yang dapat direplikasi, sehingga penarasian dan jaringan yang terhubung dapat ter akomodir secara berkelanjutan.

Rektor Universitas Ngudi Waluyo, Prof. Dr. Subyantoro, M.Hum., dalam pernyataannya menyampaikan bahwa kampus menyambut baik arah kolaborasi ini. “Kami percaya, bahwa ilmu bukan hanya untuk dibaca di kelas, tapi untuk diterapkan di tengah masyarakat. Kami siap menjadi mitra aktif dalam membangun ekonomi kreatif yang berkelanjutan,” tegas beliau.

 

Membuka Ruang bagi Mahasiswa dan Dosen untuk Terlibat Aktif

Mahasiswa merupakan generasi kreatif yang membawa semangat perubahan. Dalam skema kolaborasi ini, para mahasiswa UNW dapat terlibat dalam berbagai program:

* Proyek akhir berbasis studi kasus pelaku kreatif lokal

* Program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) melalui magang di komunitas atau usaha kreatif

* Kegiatan literasi digital dan branding untuk Usaha lokal

* Pengembangan platform digital untuk pemasaran produk lokal

 * Pembangunan dan Penguatan Jalinan narasi kolaboratif , dll

Sementara itu, dosen dan peneliti dapat mengembangkan dan mengaplikasikan riset-riset terapan yang relevan dan berdampak nyata. Penelitian tentang pola konsumsi lokal, pengembangan bahan baku alternatif, pengembangan variasi olahan makanan bergizi, atau model bisnis berkelanjutan yang lain menjadi peluang besar untuk kontribusi keilmuan sekaligus intervensi sosial yang tujuan akhirnya adalah memperbaiki kualitas hidup masyarakat luas.

 

Harapan dan Langkah Selanjutnya

Kolaborasi ini menandai babak penting dalam perjalanan ekosistem ekonomi kreatif Kabupaten Semarang. Melalui Komite Ekonomi Kreatif, harapannya tercipta sinergi yang tidak hanya menyentuh permukaan, tetapi juga membentuk akar yang kokoh dari hulu ke hilir—dari kampus ke komunitas, dari ide ke implementasi, dan membawa massa depan berkelanjutan dalam kolaborasi yang saling mennguntungkan dan berdampak.

Langkah konkret yang selanjutnya telah direncanakan meliputi:

1. FGD (Focus Group Discussion) lintas fakultas dan pelaku komunitas kreatif

2. Pengaplikasian Program inkubasi proyek kreatif mahasiswa bersama pelaku industri dan usaha kreatif di kabupaten semarang

3. Skema pendampingan berkelanjutan untuk UMKM binaan kampus

4. Kolaborasi bangunan ekosistem Kreatif Hub yang akan dibangun di Kampus Universitas Ngudi Waluyo Ungaran, dll

Lebih jauh lagi, model ini akan dijadikan rujukan untuk kolaborasi dengan kampus-kampus lain di wilayah Kabupaten Semarang, sehingga ekosistem yang dibangun bukan hanya berskala lokal, tetapi membentuk jejaring regional yang kuat dan bermanfaat.

 

Menjadi Titik Temu, Bukan Sekadar Titik Awal

Kehadiran Komite Ekraf dalam Quick Win program (25 audiensi lembaga Hexaxelix selama tahun 2025) bukan untuk menggantikan peran siapa pun, tetapi untuk menghubungkan semua peran dalam satu tarikan napas kolaboratif. Dan kampus, adalah tempat berpikir dan merancang masa depan, sedangkan komunitas adalah tempat menghidupkan gagasan itu dengan konteks yang nyata. Kolaborasi ini adalah tentang menjahit, bukan menambal. Merajut kembali relasi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri, agar lebih kuat, lebih berkelanjutan, dan lebih berdampak.

Dengan semangat kolaborasi hexahelix, Kabupaten Semarang melangkah lebih pasti dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga tangguh.

Komite Ekonomi Kreatif Kab. Semarang Memberikan Nilai Tambah serta mendorong inovasi dan kreativitas!

 

Ditulis dan dinarasikan oleh Admin Kontributor Kanal Informasi Komite Ekonomi Kreatif Kab. Semarang
11/05/2025

Bercengkerama Bersama