Inisiatif Kolaboratif dalam Analisa Dampak Ekonomi Event Kreatif di Kabupaten Semarang
Kolaborasi Komite Ekonomi Kreatif Kab. Semarang, Universitas Ngudi Waluyo, dan Hanoman Art Studio
Di balik gelombang pertumbuhan ekonomi kreatif di Kabupaten Semarang, terdapat sebuah langkah penting yang kerap luput dari perhatian: upaya terstruktur untuk memahami dan mengukur dampak nyata dari kegiatan seni dan budaya terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Upaya ini bukan muncul begitu saja, melainkan buah dari kolaborasi Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, Universitas Ngudi Waluyo, dan Hanoman Art Studio. Ketiganya menyadari bahwa sebelum bisa merancang masa depan, langkah pertama adalah memahami kondisi dan dampak hari ini.
Kolaborasi lintas lembaga ini bukan hanya tentang pengumpulan data, tetapi tentang membangun cara pandang baru terhadap kegiatan kreatif—bahwa seni bukan hanya ekspresi, tetapi juga ekonomi. Bahwa budaya bukan hanya warisan, tetapi juga sumber pertumbuhan. Lewat kajian dan analisa yang dilakukan, ketiganya merumuskan bagaimana sebuah peristiwa seni budaya lokal—dengan skala terbatas sekalipun—dapat memberi dampak ekonomi yang signifikan, menciptakan perputaran uang, membuka kesempatan usaha, dan membangun ekosistem yang hidup.
Event yang menjadi fokus analisa adalah Painting On The Spot (OTS) 2 Pelukis Nusantara yang berlangsung pada 23–25 Mei 2025, bertempat di area parkir Gua Maria Kerep di Ambarawa, Kabupaten Semarang. Acara ini menghadirkan 300 perupa dari Pulau Jawa dan Bali, termasuk siswa SMP dalam sesi lomba khusus, yang bertanding melukis langsung di lokasi-lokasi heritage Kabupaten Semarang
Tema utamanya mengusung "Heritage and Nature of Ambarawa" dengan sub tema "Human Activity in Town", yaitu menggambarkan interaksi warga dengan lingkungan bersejarah seperti Museum Palagan, Benteng Willem, Gereja Jago, serta keindahan alam di Rawa Pening. Event ini dibarengi dengan serangkaian kegiatan pendukung yang holistik, meliputi pameran lukisan peserta (baik yang dilukis on-the-spot maupun karya bawa pulang), bazar UMKM lokal, pertunjukan budaya seperti wayang kulit dan sendratari, serta sesi diskusi dan bedah karya oleh tokoh seni seperti Prof. Tjetjep Rohendi Rohidi. Penyelenggaraan ini selain karya seni bertujuan menjadi platform promosi heritage dan budaya lokal, sekaligus penggerak ekonomi kreatif—dengan menampilkan produk lokal, menyerap tenaga kerja relawan, dan meningkatkan mobilitas pengunjung, sehingga menjustifikasi perlunya analisis ekonomi terukur untuk memberikan bukti nyata atas nilai kegiatan tersebut .
Riset sebagai Strategi Pembangunan Berkelanjutan
Riset yang dilakukan ini menjadi fondasi penting dalam menjawab pertanyaan besar: seberapa pentingkah kegiatan seni budaya dalam konteks pembangunan ekonomi daerah? Bagi Komite Ekonomi Kreatif, analisa dan inisiasi ini adalah alat advokasi. sekaligus menjadi bukti empiris untuk meyakinkan pemangku kebijakan bahwa dukungan terhadap kegiatan kreatif bukanlah bentuk pemborosan, melainkan investasi dengan dampak berganda.
Sementara itu, Universitas Ngudi Waluyo memainkan peran sebagai pendorong objektivitas dan pendekatan akademik dalam proses riset melalui relawan dari undur Mahasiswa. Keberadaan institusi pendidikan tinggi ini memberi validitas, metodologi yang kokoh, dan memastikan bahwa hasil analisa dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dari sisi ini, dunia akademik hadir tidak hanya sebagai pengamat, tetapi juga sebagai mitra aktif dalam pembangunan ekosistem kreatif daerah.
Hanoman Art Studio, sebagai pelaku di lapangan sekaligus pemrakarsa event panting OTS #2 Ambarawa, melengkapi kolaborasi ini dengan perspektif praktis. Mereka memahami realitas dunia seni dari dalam, termasuk dinamika komunitas, tantangan teknis pelaksanaan event, serta kebutuhan untuk menjembatani antara visi artistik dan capaian ekonomi. Kehadiran ini menjamin bahwa data yang dikumpulkan tidak hanya steril, tetapi relevan dan membumi.
Menggali Lebih dalam dari Angka
Hasil dari analisa ini mencatat perputaran ekonomi mencapai Rp11,7 miliar, dengan multiplier effect sebesar Rp8,4 miliar. Namun yang paling penting bukanlah angkanya semata, melainkan cerita yang terkandung di baliknya. Angka-angka ini adalah representasi dari transaksi UMKM, jasa katering lokal, penginapan warga, relawan yang bekerja, pengunjung yang datang dari luar daerah, hingga para seniman yang menjual karyanya.
Salah satu kontribusi utama dari kegiatan ini adalah pada sektor UMKM lokal yang memperoleh dampak ekonomi hingga Rp270 juta. Di sinilah terlihat bagaimana seni, kreatifitas dan ekonomi bukan tiga hal yang bertabrakan, tapi saling menopang. Selain itu, nilai media exposure dan sponsorship yang mencapai Rp750 juta membuktikan bahwa kegiatan seni mampu menciptakan nilai tambah di luar transaksi langsung.
Kajian ini juga memberi ruang untuk memahami aspek yang lebih luas dari kegiatan seni, seperti penguatan identitas lokal, peningkatan partisipasi publik, dan tumbuhnya jejaring antar komunitas. Hal-hal ini, meskipun tidak dapat dihitung dalam rupiah secara langsung, merupakan elemen penting dalam membangun daya tahan sosial budaya dan iklim kreatif yang produktif.
Dampak yang Lebih dari Ekonomi
Inisiatif kolaboratif ini juga membuka pemahaman bahwa dampak kegiatan seni tidak berhenti pada dimensi ekonomi. Kegiatan seni budaya memiliki kekuatan membentuk kesadaran kolektif, membangun kebanggaan warga, serta memberi ruang baru untuk ekspresi dan partisipasi masyarakat. Analisa ini menunjukkan bahwa event kreatif termasuk seni budaya lokal bisa menjadi pengungkit yang efektif untuk menghidupkan kembali ruang-ruang publik, menjembatani generasi, serta menciptakan narasi baru tentang identitas daerah.
Dalam konteks ini, keberadaan Komite Ekonomi Kreatif menjadi vital, berperan sebagai katalisator, menginisiasi kemitraan, serta mendorong agar kegiatan seni mendapat tempat dalam perencanaan pembangunan daerah. Sementara Universitas Ngudi Waluyo membawa keilmuan dan kapasitas riset sebagai pondasi kebijakan yang berbasis data. Hanoman Art Studio sendiri menjadi representasi dari komunitas yang bergerak dengan semangat dan keberanian untuk menciptakan.
Apa yang dilakukan tiga lembaga ini dapat menjadi model daerah. Di tengah wacana pemerintah pusat untuk mendorong pertumbuhan sektor ekonomi kreatif, Kabupaten Semarang menunjukkan bahwa proses ini harus dimulai dari akar—dari riset, dari data, dan dari komunitas. Bila kita menengok ke kota lain seperti Yogyakarta yang sukses lewat Biennale dan ARTJOG, kita menemukan kesamaan bahwa keberhasilan itu bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi, riset, dan kontinuitas.
Menuju Ekosistem Kreatif yang Berkelanjutan
Ke depan, hasil analisa ini perlu diikuti dengan langkah konkret: penyusunan roadmap pengembangan ekonomi kreatif daerah, penguatan kapasitas pelaku kreatif, serta kolaborasi lintas sektor yang lebih erat. Data sudah tersedia, tinggal bagaimana memanfaatkannya menjadi dasar perencanaan, penganggaran, dan program pendukung. Dalam dunia yang semakin digerakkan oleh ide, kreativitas bukan lagi pelengkap, tetapi inti dari daya saing. Kabupaten Semarang telah mengambil langkah awal yang penting. Lewat inisiatif tiga lembaga ini, kita belajar bahwa meneliti bukan hanya untuk memahami, tapi untuk mengubah. Mengubah cara pandang terhadap seni, terhadap budaya, dan terhadap pembangunan itu sendiri.
Karena di balik setiap karya, ada nilai. Di balik setiap aktivitas kreatif, ada dampak. Dan di balik setiap riset yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, ada masa depan yang lebih baik yang bisa dirancang bersama. ***





.jpeg)
Bercengkerama Bersama