Menguatkan Ekosistem Ekonomi Kreatif Lewat Kolaborasi Jejaring Nasional : Rakornas ICCN 2025
Padang, Agustus 2025 – Kabupaten Semarang melalui Komite Ekonomi kreatif kembali meneguhkan komitmennya dalam penguatan ekosistem ekonomi kreatif dengan turut hadir dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Indonesia Creative Cities Network (ICCN) 2025 yang diselenggarakan di Kota Padang, Sumatera Barat, pada 3–9 Agustus 2025.
Acara yang mengusung tema “Bajamba di Kota Seribu Rasa” ini mempertemukan lebih dari 240 kabupaten/kota kreatif di seluruh Indonesia, 15 kepala daerah, pemerintah pusat, komunitas kreatif, akademisi, dunia usaha, hingga media. Kehadiran berbagai pihak menunjukkan semangat kolaborasi nyata dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perkembangan zaman
Dimas Herdy Utomo, M.I.Kom, selaku Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, berkesempatan untuk hadir langsung sebagai bagian dari jejaring nasional ini. Partisipasi ini bukan sekadar seremonial, melainkan juga momentum penting untuk membawa aspirasi, pengalaman, serta gagasan dari Kabupaten Semarang agar dapat terhubung dengan dinamika ekraf nasional dan timbal balik yang diarapkan dapat di adaptasi.
Dialog Kota Kreatif di Bukittinggi: Pemanasan Menuju Rakornas
Sebelum agenda Rakornas berlangsung, Dimas mengikuti Dialog Kota Kreatif yang diselenggarakan di Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi pada 4 Agustus 2025. Diskusi ini mempertemukan para penggerak ekraf dari berbagai daerah, di antaranya dari Jakarta, Maluku, Aceh, Tangerang, hingga Sumatera Barat.
Dalam forum tersebut, kabupaten Sewmarang berbagi pengalaman tentang bagaimana Kabupaten Semarang terus mendorong kolaborasi lintas sektor dalam membangun jejaring kreatif. Salah satu poin penting yang di sampaikan adalah peran komunitas dan jejaring lokal sebagai motor penggerak ekosistem kreatif, bukan sekadar pelengkap dalam program pemerintah.
Dialog ini menegaskan bahwa setiap kota/kabupaten memiliki karakteristik unik, namun tujuan kita sama: menciptakan ekosistem yang mendukung kreativitas agar dapat memberi dampak sosial, budaya, lingkungan, dan tentu saja ekonomi. selain bercerita tentang keberhasilan komunitas dalam meng konsep acara kreatif, forum tersebut juga sebagai media belajar akan tantangan elaborasinya.
Rakornas ICCN 2025: Pertemuan Besar Jejaring Kreatif Nasional
Rakornas ICCN tahun ini berlangsung meriah dengan rangkaian agenda konferensi kreatif, forum kepala daerah, hingga sesi kolaborasi multi pihak. Selama 5 hari penuh, para peserta mengikuti berbagai diskusi yang mencakup isu strategis mulai dari regulasi kelembagaan ekraf, penguatan kapasitas komunitas, hingga diplomasi kebudayaan melalui jaringan internasional.
Beberapa narasumber penting yang hadir di antaranya:
Teuku Riefky H, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Giring Ganesha, Wakil Menteri Kebudayaan, Raffi Ahmad, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Mahyeldi Ansharullah, Gubernur Sumatra Barat, Fadly Amran, Wali Kota Padang, serta jajaran kepala daerah lain dari berbagai kota/kabupaten.
Dalam sambutannya, Ketua Umum ICCN TB Fiki C. Satari menekankan bahwa jejaring kota kreatif harus mampu menjadi solusi bagi tantangan zaman, bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.
Doc KEK : Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang berfoto bersama Teuku Riefky H (Menteri Ekonomi Kreatif/Kanan) dan Giring Ganesha (Wakil menteri kebudayaan/Kiri)
Forum Kepala Daerah: Inspirasi dari Ragam Wilayah
Salah satu sesi menarik adalah Forum Kepala Daerah, yang menampilkan pengalaman para bupati dan wali kota dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka berbagi tentang kebijakan, perda, inovasi, dan strategi membangun ekosistem kreatif berbasis potensi lokal.
Dari diskusi tersebut, yang apat diamati dan dilihat adalah kesamaan semangat: bagaimana kreativitas dijadikan modal utama pembangunan daerah, bukan sekadar pelengkap program. Beberapa kepala daerah mencontohkan keberhasilan dalam mengintegrasikan ekraf ke sektor pariwisata, UMKM, hingga tata kelola kota yang ramah komunitas.
Bagi Kabupaten Semarang, forum ini memberikan banyak insight, khususnya dalam hal bagaimana pemerintah daerah dapat lebih aktif memfasilitasi ekosistem kreatif dengan regulasi yang berpihak, dukungan infrastruktur dan keberpihakan, serta ruang kolaborasi yang lebih luas.
Selain forum resmi, Rakornas juga menjadi ruang jejaring informal. dalam kesempatan tersebut Dimas berdialog langsung dengan berbagai tokoh nasional, mulai dari perwakilan pemerintah pusat, pelaku industri kreatif, hingga sesama jejaring daerah dengan latar belakang yang beragam dari saban sampai-mearuke.
Event ini seklaigus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, terutama dalam pemberdayaan generasi muda. Demikian juga diskusi dengan perwakilan kementerian yang memberikan arahan strategis bagi daerah untuk lebih serius dalam mengelola potensi ekraf. Momen-momen inilah yang memperkaya pengalaman dan memperluas wawasan, sekaligus menguatkan posisi Kabupaten Semarang dalam jejaring nasional. termasuk belajar sebuah narasi besar tentang penjenamaan kota seperti yang dilakukan padang yang mencanangkan diri menjadi kota Gastronomi Dunia.
Doc KEK : Jajaran Kepala Daerah yg berbagi praktik Ekonomi Kreatif Daerah
Edukasi dan Refleksi: Apa yang Bisa Dibawa Pulang?
Bagi Komite Ekonomi Kreatif, hadir di Rakornas ICCN bukan hanya untuk berpartisipasi, tetapi juga untuk belajar dan membawa pulang nilai-nilai penting. Ada beberapa poin refleksi yang relevan untuk Kabupaten Semarang:
1. Pentingnya Regulasi dan Kelembagaan Ekraf di Daerah
Beberapa kota sudah memiliki dinas khusus ekonomi kreatif, sementara Kabupaten Semarang masih dalam tahap penguatan komite. Ini menjadi bahan advokasi agar ekraf mendapat perhatian lebih serius di level kebijakan.
2. Kolaborasi Hexa Helix sebagai Kunci
Rakornas menekankan peran kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, pelaku bisnis, media, dan agregator. Di Semarang, kolaborasi ini harus terus ditumbuhkan agar tidak hanya bertumpu pada satu pihak.
3. Generasi Muda sebagai Aset Kreatif
Diskusi bersama Raffi Ahmad menyoroti pentingnya pemberdayaan generasi muda. Kabupaten Semarang, dengan bonus demografi yang ada, harus mampu menyediakan ruang bagi anak muda untuk berkarya dan berinovasi.
4. Ekonomi Kreatif sebagai Identitas Daerah
Setiap kota/kabupaten memiliki potensi unik, dan bagi Semarang, potensi tersebut bisa lahir dari tradisi, kerajinan, kuliner, hingga inovasi digital. Rakornas memberikan inspirasi bagaimana potensi lokal bisa dikemas menjadi identitas daerah.
.jpg)
Doc KEK : Peserta Rakornas ICCN 2025 berfoto bersama setelah sesi diskusi
Jejaring Nasional sebagai Sumber Inspirasi dan Dukungan
Keikutsertaan dalam ICCN membuat Kabupaten Semarang tidak berjalan sendiri. Ada ratusan kota/kabupaten lain yang bisa menjadi mitra bertukar pengalaman dan solusi.
Partisipasi Kabupaten Semarang dalam Rakornas ICCN 2025 adalah bukti nyata bahwa kita serius dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif. Dari Bukittinggi hingga Padang, dari dialog kota kreatif hingga forum kepala daerah, semua pengalaman ini menjadi energi baru untuk membawa ekraf Kabupaten Semarang ke level berikutnya.
Kedepan, Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor, mendorong lahirnya regulasi yang mendukung, serta membuka ruang bagi generasi muda untuk berkreasi. Dengan semangat gotong royong dan jejaring nasional, kita yakin bahwa Kabupaten Semarang mampu menjadi bagian penting dari gerakan kota/kabupaten kreatif Indonesia.
Praktik Baik dan Arah Baru bagi Kabupaten Semarang
Rakornas ICCN 2025 di Padang tidak hanya menjadi ajang temu kangen jejaring kreatif nasional, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran kolektif. Dari berbagai sesi diskusi, forum, dan pertemuan informal, banyak praktik baik yang muncul dan bisa dijadikan inspirasi. Bagi Kabupaten Semarang, pengalaman ini dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata di lapangan.
1. Tata Kelola yang Inklusif dan Partisipatif
Salah satu hal yang terlihat menonjol dalam Rakornas adalah bagaimana komunitas ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan ekosistem kreatif, bukan sekadar objek program pemerintah. Beberapa daerah mencontohkan praktik di mana komunitas diberi ruang untuk ikut menyusun agenda pembangunan kreatif, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi.
Bagi Kabupaten Semarang, pola ini bisa diadaptasi melalui forum-forum rutin antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha. Dengan demikian, kebijakan yang lahir benar-benar mencerminkan kebutuhan ekosistem kreatif, bukan sekadar program top-down.
2. Penguatan Identitas Lokal sebagai Daya Saing
Dari forum kepala daerah, banyak cerita sukses lahir dari keberanian daerah dalam menjadikan identitas lokal sebagai fondasi ekonomi kreatif. Misalnya, ada kota yang membangun branding lewat kuliner khas, sementara daerah lain memanfaatkan seni pertunjukan tradisional untuk masuk ke pasar global.
Kabupaten Semarang sendiri memiliki warisan budaya, kuliner, dan kerajinan yang kaya. Praktik baik ini bisa diadaptasi dengan cara mengemas potensi lokal menjadi produk dan narasi yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar. Identitas lokal bukan hanya soal romantisme tradisi, tetapi juga modal daya saing dalam ekonomi global.
3. Pendidikan Kreatif bagi Generasi Muda
Isu penting lain yang mencuat adalah bagaimana generasi muda dilibatkan sebagai aktor utama. Beberapa daerah mencontohkan praktik program inkubasi kreatif di sekolah, kolaborasi dengan kampus, hingga pelatihan berbasis komunitas. Tujuannya sederhana: memberi ruang bagi anak muda untuk bereksperimen, berinovasi, dan mengekspresikan diri.
Kabupaten Semarang dapat mengembangkan model serupa dengan menggandeng sekolah, perguruan tinggi, dan komunitas lokal. Dengan begitu, ekosistem kreatif tidak hanya berfokus pada pelaku yang sudah mapan, tetapi juga membekali generasi baru agar siap melanjutkan tongkat estafet kreativitas.
4. Ekosistem Kolaborasi Lintas Sektor
Rakornas juga memperlihatkan kekuatan kolaborasi lintas sektor. Model Hexa Helix—yang melibatkan pemerintah, komunitas, akademisi, dunia usaha, media, dan agregator—ditunjukkan secara nyata dalam pertemuan ini. Setiap pihak memiliki peran, dan sinerginya melahirkan ekosistem yang lebih kokoh.
Di Kabupaten Semarang, pendekatan ini bisa diwujudkan dengan membangun platform kolaborasi yang mempertemukan berbagai pihak secara reguler. Misalnya, agenda tahunan yang mempertemukan UMKM kreatif, pelaku pariwisata, pemerintah, dan komunitas. Dari situ, peluang kerja sama bisa lebih terstruktur, bukan insidental.
.jpg)
Doc KEK : Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kab. Semarang Mewakili Jawa Tengah dalam Pitching Tuan Ruman ICCF 2026 (kiri), Dimas Berfoto dengan Delegasi Rakornas ICCN dr Sumatera Barat dan Tangerang Selatan
Arah Baru dan Harapan ke Depan
Rakornas ICCN 2025 memberi gambaran jelas bahwa ekonomi kreatif bukan sekadar sektor ekonomi tambahan, melainkan arah baru pembangunan daerah. Dengan pola tata kelola yang terkoneksi dengan komunitas, arah pembangunan bisa lebih adaptif, relevan, dan berkelanjutan.
Bagi Kabupaten Semarang, ini adalah saat yang tepat untuk menegaskan posisi dalam ekosistem nasional. Ada beberapa alasan mengapa momentum ini penting:
1. Meningkatkan Kepercayaan Diri Daerah
Dengan aktif hadir di jejaring nasional, Kabupaten Semarang menunjukkan bahwa kita siap menjadi bagian dari gerakan kota/kabupaten kreatif Indonesia. Kepercayaan diri ini penting untuk membuka akses kolaborasi, investasi, hingga promosi.
2. Menghubungkan Potensi Lokal dengan Pasar yang Lebih Luas
Rakornas membuktikan bahwa jejaring adalah pintu untuk mempertemukan potensi lokal dengan peluang pasar yang lebih besar. Dengan terhubung pada ICCN, produk kreatif dari Kabupaten Semarang berpeluang mendapat perhatian nasional maupun internasional.
3. Menjadi Bagian dari Gerakan Inklusif
Ekonomi kreatif bukan hanya milik pelaku usaha besar. Justru banyak praktik baik lahir dari komunitas kecil, pengrajin, dan UMKM. Dengan model tata kelola inklusif, Kabupaten Semarang dapat memastikan tidak ada pihak yang tertinggal.
4. Mewujudkan Tata Kelola yang Terhubung dengan Komunitas
Rakornas menegaskan bahwa arah masa depan ekosistem kreatif adalah tata kelola yang terhubung erat dengan komunitas. Kabupaten Semarang dapat menjadi contoh dengan cara membuka kanal komunikasi dua arah antara komunitas dan pemerintah.
5. Momentum untuk Bergerak Lebih Maju
Rakornas ICCN 2025 di Padang telah memberikan banyak pelajaran sekaligus inspirasi. Praktik baik dari berbagai daerah menunjukkan bahwa kreativitas bukan hanya milik individu, tetapi sebuah gerakan kolektif yang bisa membawa perubahan nyata.
Kabupaten Semarang memiliki semua modal untuk menjadi bagian penting dari gerakan ini: potensi budaya, kreativitas komunitas, energi generasi muda, dan jejaring yang semakin luas. Tinggal bagaimana kita meneguhkan komitmen untuk mengimplementasikan praktik baik, membangun tata kelola yang partisipatif, serta menjaga agar setiap kebijakan selalu terkoneksi dengan komunitasnya.
Dengan langkah itu, kita tidak hanya berbicara tentang ekonomi kreatif sebagai wacana, tetapi benar-benar menjadikannya arah pembangunan yang berkelanjutan, inklusif, dan membanggakan untuk Kabupaten Semarang.

.png)
.jpg)




.jpeg)
Bercengkerama Bersama