sumber gambar : Dokumentasi Latihan Sanggar Kemrincing Ambarawa
  • 03 Mei 2025
  • Dibaca 431x

Sanggar Tari Kemrincing Siap Tampil di TMII Membawakan Lakon “Baruklinting Sudha Karma”


Sanggar Tari Kemrincing, kelompok seni pertunjukan asal Kabupaten Semarang, tengah mempersiapkan diri untuk tampil di panggung prestisius Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada tanggal 18 Mei 2025 mendatang. Membawa sekitar 42 personel, terdiri dari penari, penari pembuka, dan penabuh karawitan lintas sanggar, penampilan ini menjadi salah satu momen penting dalam upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan subsektor seni pertunjukan dalam ekosistem ekonomi kreatif di Kab. Semarang.

Di bawah kepemimpinan Ino Sanjaya, Sanggar Tari Kemrincing telah cukup dikenal sebagai salah satu pelopor revitalisasi seni tari tradisional di Kabupaten Semarang. Melalui karya-karya yang tidak hanya atraktif secara visual, tetapi juga kuat dalam narasi budaya, sanggar ini telah menjadi ruang belajar, ekspresi, dan regenerasi para penari muda di Kabupaten Semarang dan Sekitarnya.

Penampilan mereka kali ini akan membawakan sebuah lakon berjudul “Baruklinting Sudha Karma”, sebuah karya dramatari yang mengangkat legenda lokal masyarakat Jawa Tengah (Rawa Pening) dalam balutan pendekatan artistik yang kontemporer dan penuh makna.

 

Menghidupkan Legenda Lokal Lewat Tari: Makna “Baruklinting Sudha Karma”

Lakon “Baru Klinting Sudha Karma” merupakan reinterpretasi dari kisah legendaris Baru Klinting, sosok dalam mitologi rakyat yang dikenal sebagai naga jelmaan dari anak Ki Selokantoro. Dalam versi ini, lakon difokuskan pada aspek karma atau akibat dari perbuatan manusia, baik dalam bentuk kesewenang-wenangan, penolakan terhadap kebenaran, maupun pengabaian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Kata “Sudha” dalam bahasa Jawa memiliki makna ‘sudah’ atau ‘telah selesai’, sedangkan “Karma” merujuk pada hasil atau konsekuensi dari tindakan. Maka, “Sudha Karma” dalam konteks ini bisa dimaknai sebagai “akibat telah tiba” — sebuah pengingat tentang pentingnya tanggung jawab sosial dan spiritual dalam kehidupan bersama.

Lakon ini akan ditampilkan dalam bentuk dramatari kolosal, dengan penataan musik gamelan khas lereng Gunung Telomoyo, kostum tradisional penuh simbolisme, serta penggabungan unsur dramatik melalui gerak dan ekspresi. Visualisasi naga Baru Klinting juga akan menjadi elemen utama panggung, memperkuat daya tarik naratif dan artistik pertunjukan. Pengangkatan lakon ini sangat sejalan dengan momentum Dinas Pariwisata Kab. Semarang untuk terus mempopulerkan kawasan Rawa Pening dan Sekitarnya menjadi destinasi tujuan wisata terintegrasi. Hal ini sejalan pula dengan niat pemerintah daerah Provinsi Jawa Tengah yang tengah menggodog Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Rawa pening- Kopeng -Borobudur Jawa tengah.

 

Kolaborasi Lintas Sanggar 

Untuk mendukung pementasan ini, Sanggar Kemrincing tidak bekerja sendiri. Kolaborasi lintas sanggar seni dan komunitas budaya dari berbagai wilayah di Kabupaten Semarang dikomandoi oleh Awig Soedjatmika, yang tidak hanya dikenal sebagai seniman pertunjukan tetapi juga sebagai pimpinan Javayo Production dan anggota Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang bidang Pengembangan Industri.

Awig memainkan peran penting sebagai penghubung antara komunitas, seniman, dan pemangku kebijakan. Ia memastikan bahwa kegiatan ini tidak hanya sekadar pertunjukan, tetapi menjadi perwujudan nyata ekosistem kreatif yang saling menopang — dari hulu (proses artistik dan latihan), hingga hilir (panggung, promosi, dan publikasi).

TMII bukan hanya panggung, tapi juga etalase budaya nasional. Kita ingin masyarakat tahu bahwa Kabupaten Semarang punya kekayaan narasi, kreativitas, dan SDM seni yang luar biasa,” jelas Awig dalam satu kesempatan wawancara.

Sebagai produser pertunjukan, Javayo Production turut menyiapkan aspek teknis, koreografi, pencahayaan, hingga dokumentasi pertunjukan, menjadikan kolaborasi ini sebagai contoh konkret sinergi antara komunitas dan pelaku industri kreatif. Awig dan kawan kawan mempersiapkan semua ini dengan penuh antusias.

 

Dukungan Pemerintah: Sinergi Dinas Pariwisata Kab. Semarang dan Badan Penghubung Jateng

Kegiatan ini mendapatkan dukungan penuh dari Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, bekerja sama dengan Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah di Jakarta. Dinas memfasilitasi seleksi karya, pembinaan kelompok seni, serta pengurusan administratif dan teknis keberangkatan rombongan. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, Wiwin Sulistyowati, menyampaikan bahwa keterlibatan komunitas budaya dalam kegiatan tingkat nasional menjadi bagian dari strategi promosi daerah yang inklusif dan berdampak ganda dan berkelanjutan:

Seni bukan hanya simbol budaya, tapi juga kekuatan ekonomi baru. Kami berharap dari kegiatan ini muncul semangat baru untuk menjadikan seni pertunjukan sebagai bagian penting dari ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Komite Ekraf yang baru terbentuk harapanya dapat meng-orkestrasi ini menjadi momentum kolaborasi yang nantinya berdampak pada kemajuan ekosistem di daerah”. (18/03)

 

Sanggar Tari Kemrincing: Ruang Tumbuh Seni dan Regenerasi

Sejak berdiri, Sanggar Tari Kemrincing telah menjadi tempat belajar tari bagi anak-anak, remaja, hingga dewasa dari berbagai wilayah Kabupaten Semarang. Tidak hanya teknik menari, sanggar ini juga mengajarkan nilai-nilai kejawaan, filosofi tubuh, serta kedisiplinan artistik. Ino Sanjaya, selaku pendiri dan pemimpin sanggar, dikenal sebagai tokoh muda penting dalam dunia tari tradisional lokal. Ia tak hanya menata koreografi, tetapi juga menjadi mentor dan penggerak regenerasi seniman. “Kami tidak sedang melatih juara lomba, tapi sedang membentuk generasi yang paham siapa dirinya, dari mana budayanya, dan bagaimana ia bisa menjadikan itu sebagai kekuatan hidup,” ujar Ino. Sanggar ini menjadi bagian dari subsektor seni pertunjukan dalam ekonomi kreatif, yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi industri berbasis budaya lokal. 

 

Seni Pertunjukan sebagai Bagian dari Ekonomi Kreatif

Dalam konteks nasional, seni pertunjukan merupakan salah satu dari 17 subsektor ekonomi kreatif yang diakui melalui Undang-undang. Di Kabupaten Semarang sendiri, pertumbuhan komunitas seni cukup signifikan, mulai dari seni tari, karawitan, ketoprak, hingga teater komunitas. Namun, tantangan yang dihadapi adalah akses pasar, manajemen produksi, serta regenerasi SDM. Penampilan di TMII ini menjadi salah satu langkah konkret untuk menjawab tantangan tersebut, dengan menampilkan potensi daerah dalam format yang profesional dan berorientasi pada penguatan ekosistem. Momentum ini juga dimanfaatkan oleh Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang untuk mendorong transformasi digital. Dalam waktu dekat, rencana pengembangan platform database seniman dan sanggar seni akan dijalankan, untuk mendukung visibilitas para pelaku dan memperluas jaringan kolaborasi.

Awig Soedjatmika menyampaikan bahwa: “Ke depan, tidak cukup hanya tampil bagus di panggung. Kita harus hadir juga di ruang digital: YouTube, katalog daring, marketplace jasa seni, dan media sosial. Ini bagian dari modernisasi budaya tanpa kehilangan akar.

 

Panggung Nasional, Mimpi Kolektif Daerah

Tampil di TMII merupakan kebanggaan sekaligus tanggung jawab. Sanggar Tari Kemrincing bersama komunitas seni lainnya membawa lebih dari sekadar pertunjukan tari. Mereka membawa narasi daerah, kerja keras komunitas, serta harapan generasi muda yang ingin hidup dari kreativitas dan budaya mereka sendiri. Dengan lakon “Baru Klinting Sudha Karma”, mereka tidak hanya membangkitkan legenda lama, tapi juga menyampaikan pesan kekinian tentang keadilan, empati, dan pentingnya hidup selaras dengan nilai luhur budaya.

Semoga dari panggung ini lahir dampak yang meluas — menginspirasi para pelaku seni di kab semarang, memperkuat kebijakan budaya dan pelestariannya lintas dinas, dan membangkitkan optimisme bahwa dari daerah pun, seni bisa menjadi poros pembangunan dan jembatan ke masa depan yang lebih berbudaya dan berdaya.

Bercengkerama Bersama