UMKM Kriya Kreatif dan Kuliner Khas Kab. Semarang Unjuk Gigi di TMII: Sinergi dan Kolaborasi
Jakarta, 18 Mei 2025 – Tak hanya mengirim 40-an seniman dari Sanggar Tari Kemrincing dan kolaborator lintas sanggar lainnya untuk tampil membawakan lakon “Baru Klinting Sudha Karma” di TMII, Pemerintah Kabupaten Semarang juga menampilkan kekuatan ekonomi kreatifnya secara lebih luas dengan menggandeng pelaku UMKM lokal ke ajang yang sarat nilai budaya ini.
Dalam kegiatan yang diselenggarakan di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang berkolaborasi dengan pelaku UMKM yang tergabung dalam UMKM Center Kab. Semarang serta pelaku dan pengrajin kreatif , menghadirkan berbagai produk unggulan. Tujuannya jelas: mengenalkan potensi Kabupaten Semarang sebagai daerah yang kaya akan tradisi, inovasi, dan semangat kolaboratif khas ekosistem ekonomi kreatif.
Kuliner Khas Langsung Dimasak di Lokasi: Perpaduan Atraksi dan Kenikmatan Rasa
Yang paling menarik perhatian dalam gelaran ini adalah kehadiran langsung tiga ikon kuliner Kabupaten Semarang yang dimasak di lokasi sebagai bagian dari pertunjukan kultural dan promosi pariwisata kuliner. Ketiganya adalah:
- Gecok Tlogo – Hidangan khas dari Desa Tlogo, Kecamatan Tuntang, yang terbuat dari daging kambing muda dimasak dengan rempah khas dan santan kental. Aroma dan kelezatan rasa dagingnya membuat banyak pengunjung antre mencicipi.
- Serabi Ngampin – Makanan tradisional dari Desa Ngampin, Ambarawa, ini disajikan langsung dari tungku tanah liat dengan cita rasa gurih manis, menghadirkan nostalgia jajanan masa kecil.
- Gudangan Wader Rawa Pening – Sajian sayuran rebus yang disiram parutan kelapa berbumbu, mencerminkan kesegaran, kesederhanaan, dan filosofi hidup sehat masyarakat pesisir Rawa Pening.
Ketiga kuliner ini dipresentasikan bukan hanya sebagai makanan, tapi juga bagian dari pertunjukan budaya: bagaimana masakan disiapkan, bagaimana rempah diracik, dan bagaimana filosofi lokal hadir dalam setiap sajian. Ini menjadikan acara tak sekadar pameran, tapi pengalaman budaya yang menyeluruh bagi pengunjung TMII.

UMKM Kreatif Tampil Membawa Wajah Baru Ekonomi Lokal
Di luar kuliner, beragam produk UMKM kreatif Kabupaten Semarang juga dipamerkan. Produk-produk ini merupakan hasil karya asli petani dan produsen lokal dan perajin lintas generasi yang telah dikurasi dan disiapkan untuk pasar yang lebih luas, termasuk di Jakarta dan wilayah nasional lainnya.
Beberapa UMKM tersebut yang tampil antara lain:
- Kopi Gembong: Kopi khas dari lereng Gunung Kelir ini menarik banyak perhatian pengunjung, dengan aromanya yang khas dan teknik seduh manual yang diperagakan langsung di lokasi.
- Wader Crispi dan Belut Goreng: Olahan ikan air tawar dari kawasan Rawa Pening yang dikemas modern menjadi camilan gurih dan bergizi.
- Tas Kulit Lokal: Produk kerajinan berbahan kulit asli, diproduksi oleh UMKM di kawasan Bergas dan Ungaran, menjadi daya tarik tersendiri karena kualitas dan desainnya yang bersaing.
- Perca Cantik: Aksesori dan tas dari kain perca yang menjadi contoh nyata upcycle kreatif sekaligus menampilkan estetika khas perempuan desa.
- Herco Craft: UMKM yang bergerak di bidang daur ulang kreatif. Produk mereka yang berupa hiasan meja, bunga, dan pernak-pernik dari botol bekas menonjolkan nilai sustainability yang menjadi isu penting dalam industri kreatif masa kini.
- Renita Eceng Gondok : Produsen berbagai kerajinan berbahan eceng gondok dengan puluhan karya yang khas dan berkelanjutan
Kehadiran UMKM dalam acara ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif bukan hanya milik kota-kota besar. Kabupaten Semarang membuktikan bahwa desa-desa kreatif mampu bersaing dan beradaptasi dengan tuntutan zaman.
Sinergi Ekosistem: Seni Pertunjukan dan Ekraf yang Saling Kuatkan
Pertunjukan seni dan partisipasi UMKM dalam satu panggung yang sama bukanlah kebetulan. Ini merupakan wujud dari sinergi antar subsektor dalam ekosistem ekonomi kreatif, yang terus coba dikembangkan oleh Pemerintah Daerah melalui Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang. Dalam kegiatan ini, Komite Ekraf berperan sebagai fasilitator, penghubung, dan penggerak yang menjahit kerja kolaboratif antar pelaku, mulai dari seniman, UMKM, komunitas pemuda, hingga pemerintah.
Subsektor seni pertunjukan, yang menjadi pusat kegiatan utama, ditopang oleh subsektor kuliner, kriya, fesyen, dan desain produk. Masing-masing saling memperkuat, menciptakan pengalaman yang menyeluruh dan memberi nilai tambah bagi semua pihak yang terlibat. Inilah esensi dari pendekatan ekonomi kreatif yang integratif dan partisipatif.
Keberhasilan kegiatan ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif tidak bisa berdiri sendiri, tetapi perlu jaringan kerja yang saling mendukung. Mulai dari penyedia ruang, pengelola logistik, pelatih seniman, pembuat kostum, hingga produsen cendera mata lokal—semuanya bekerja bersama demi satu tujuan: mengangkat nama Kabupaten Semarang.
Mimpi untuk Ajang Reguler dan Lebih Luas
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi “sekali tampil, selesai”. Banyak pihak berharap agar pertunjukan dan ekspose potensi lokal seperti ini menjadi agenda tahunan atau reguler. Tidak hanya di TMII, tetapi juga di ajang-ajang nasional maupun internasional lainnya. kata pengunjung Anjungan.
Diperlukan kerja sama berkelanjutan antara pemerintah, Komite Ekraf, pelaku UMKM, komunitas budaya, dan generasi muda. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar peluang Kabupaten Semarang memperkuat posisi dalam peta ekonomi kreatif nasional. Pemerintah Kabupaten Semarang melalui Komite Ekonomi Kreatif Kab. Semarang berkomitmen untuk menjadikan kegiatan semacam ini sebagai bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan berbasis potensi lokal, khususnya melalui pendekatan ekonomi kreatif.
Ke depan, dukungan tidak hanya akan diberikan dalam bentuk fasilitasi event atau pengiriman delegasi seni, tetapi juga dalam bentuk penguatan kapasitas pelaku melalui pelatihan, inkubasi usaha kreatif, pembukaan akses pemasaran digital, serta integrasi program UMKM ke dalam ekosistem pariwisata dan budaya daerah. Pemerintah juga sedang menjajaki kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan dunia pendidikan dan pelaku industri kreatif nasional, agar pelaku kreatif di Kabupaten Semarang tidak hanya menjadi pengisi acara, tetapi juga penggerak inovasi dan pencipta nilai tambah yang berdampak ekonomi nyata bagi masyarakat. Inisiatif ini akan diperkuat dengan peraturan daerah pendukung serta pembentukan pusat kreatif berbasis desa, sebagai simpul baru pengembangan ekonomi rakyat yang mengakar dan berkelanjutan.
Dengan spirit “dari daerah untuk Indonesia”, acara ini menegaskan bahwa kreativitas lokal, jika diberi ruang dan didukung serius, mampu menjadi kekuatan ekonomi dan kebanggaan budaya.
Ditulis dan dinarasikan oleh Admin Kontributor Kanal Informasi Komite Ekonomi Kreatif Kab. Semarang
17/05/2025





.jpeg)
Bercengkerama Bersama